Kamis, 28 Juli 2016

Sejarah Kelurahan Gilimanuk

Sejarah Kelurahan Gilimanuk - Berbicara masalah sejarah adalah suatu pemikiran yang mengacu pada masa lampau, oleh karenanya pemaparan dalam hal sejarah merupakan penyampaian peran tentang apa-apa yang pernah terjadi pada masa lampau. Kalau kita soroti dari segi tujuan dalam hal ini adalah sebagai bandingan pada masa sekarang dan sebagai cermin terhadap peristiwa yang akan datang. 

Kalau kita mendengar kata Gilimanuk seakan-akan pikiran kita terarah pada suatu tempat yang menghubungkan dua buah Pulau yaitu Pulau Jawa dan Pulau Bali. Sebenarnya bukan itu saja, memang Perkembangan nama Penyebrangan Gilimanuk – Ketapang semakin Vital adanya sebagai akibat dari bertambah banyaknya orang-orang luar Bali khususnya dari Jawa yang ingin menikmati dan menyaksikan keindahan Pulau Bali dengan segala variasi Budayanya. Begitu pula semakin majunya roda perekonomian antar pulau. Bagaimana pun Gilimanuk sering dijuluki salah satu Pintu Gerbang Barat Pulau Bali. Namun dibalik kedudukannya sebagai Kunci Penyebrangan Jawa-Bali, kita dapat melihat suatu kenyataan yaitu sejarah kedatangan orang-orang dari berbagai Suku dan berbagai daerah sekedar mereka mencari nafkah, atau melaksanakan tugasnya sehingga dalam waktu relatif singkat Gilimanuk tidak saja dikenal sebagai tempat penyebrangan akan tetapi dikenal sebagai suatu Wilayah yang Berbhineka Tunggal Ika.


ASAL USUL KELURAHAN GILIMANUK
Menurut cerita-cerita rakyat bahwa sekitar Warsa 1920 Gilimanuk yang dikenal sekarang masih hamparan hutan belantara yang hanya dihuni oleh berbagai jenis Marga Satwa saja diantaranya paling banyak adalah Aneka jenis burung seperti Jalak Putih, Perkutut dan lain-lainnya. Orang dari Jawa yang ada pada saat itu mereka sebut tempat itu dengan nama Tanjung Selat, sebaliknya orang Bali yang dating ke tempat itu mereka sebut dengan nama Ujung.

Demikian mereka sebut tempat itu dengan nama yang berbeda-beda sesuai dengan pandangan masing-masing. Dalam keadaan wilayah seperti itu tidak seorang pun berkeinginan untuk menetap pada waktu itu di Gilimanuk disebabkan oleh tempat/wilayah ini terpencil dan banyak binatang buas.

Menurut cerita dari orang-orang tua yang dapat dipercaya, bahwa pada suatu ada Perahu dari Madura yang melintasi Selat Bali dihantam angin rebut dan gelombang besar sehingga mengalami kerusakan pada perahunya dan terdampar pada suatu Teluk dan berhasil menyelamatkan diri. Teluk itu sekarang disebut dengan Teluk Gilimanuk. Orang-orang perahu tersebut sempat berlindung ditempat itu. Dalam keadaan yang sangat melelahkan setelah berjuang ditengah hantaman mara bahaya, orang-orang tersebut menenangkan fikiran sambil menatap keindahan alamnya. Mereka santai menikmati aneka jenis burung yang secara kebetulan diantara burung yang melintas terlihat burung yang menjadi kegemarannya, burung itu adalah burung perkutut. Pada Teluk Gilimanuk terdapat Pulau-pulau kecil (berupa karang) menambah indahnya panorama di waktu pagi maupun sore hari. Pulau kecil itu disebut dengan nama GILI, sedangkan burungnya mereka sebut dengan nama MANUK ( Dalam Bahasa Madura GILI : Pulau dan MANUK : Burung ) berkat Lindungan Tuhan Yang Maha Esa setelah keadaan laut normal, perahu yang mengalami kerusakan diperbaiki sehingga mereka kembali ke Madura dalam keadaan selamat dan berhasil menangkap serta membawa burung perkutut. Lewat informasi secara Getok Tular antar orang-orang perahu/nelayan itu tersebarlah informasi GILI yang banyak MANUKNYA.

Maka dari itu Gilimanuk banyak dikenal dikalangan masyarakat Jawa dan Madura. Melalui  proses penyebutan tempat itu disebut Gilimanuk seperti yang kita kenal sekarang secara Etymologi(Sejarah Asal-usul kata Gilimanuk berarti sebuah pulau kecil yang terdapat banyak burung-burungnya)

Dalam tahun1930an Pemerintah Kolonial Belanda memindahkan tahanan Golongan berat dari Candikusuma ke GILI yang banyak Manuk-manuknya sebanyak 100 Orang yang sebagian besar dari Lombok. Sebagai Kepala Penjara bertugas RADEN MAS JASIMAN dari Negara untuk keperluan pengawasan dan pengamanan para tahanan tersebut dilaksanakan oleh Pemerintah Kolonial Belanda dengan mendirikan sebuah penjara. JASIMAN dipercaya selaku pimpinan penjara itu. JASIMAN tinggal bersama keluarga termasuk iparnya yang bernama KASIM. Bersama dengan dibangunya penjara tersebut Pegawai Perusahan Belanda bernama TUAN COLA dariBanyuwangiatas seijin TUAN KU RAJA NEGARA diperkenankan membuka hubungan dagang Jawa-Bali. TUAN COLA bekerjasama dengan MISNADI. MISNADI mengajak keluarga dan menantunya yang bernama NIBAH untuk bersama-sama tinggal disini. RADEN MAS JASMAN dan TUAN COLA beserta beberapa tahanan bermukim di Gilimanuk. Maka melalui sejarah mencatat adanya manusia untuk menghuni wilayah ini yang sebenarnya tidak ada yang mau dan berani menetap. Ada yang berasal dari Jawa, Madura, Makasar, Bugis dan juga pendatang sambil mencari burung menurut kegemaran mereka didaerah tersebut dan disekitarnya, Sehingga wilayah ini makin dikenal oleh berbagai Suku bangsa kulit kuning dari timur jauh. Segenap tahanan dipindahkan ke Yeh Ketipat Tetapi keluarga MISNADI dan RADEN MAS JASIMAN beberapa orang yg berjumlah 6 KK membentuk perkampungan kecil sebagai wadah kehidupan sosialnya. RADEN MAS JASIMAN sebagai Kepalanya, mereka membentuk Paguyuban Kecil untuk menghabiskan sisa-sisa kehidupannya di Gilimanuk. Lokasinya di daerah Pelabuhan sekarang dengan Luas area 1 Ha. Setelah secara resmi Jepang menguasai Negara kita ( Indonesia ) dibuat  Pos-pos Pertahanan, membuat Galangan Kapal, memadatkan jalan-jalan jurusan Negara – Singaraja dengan cara Rodi untuk kepentingan Jepang. Kerja Rodi ini berlangsung sampai Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Pada masa perjuangan fisik mempertahankan Kemerdekaan, Gilimanuk tidak luput juga dari medan pertempuran tat kala Pasukan Revolusioner kita pimpinan I GUSTI NGURAH RAI dipakai lintasan droping senjata dariJawa tahun 1946 dalam pertempuran itu banyak pasukan kita gugur sebagai kesuma bangsa dan dikuburkan di pekuburan pangkalan.

Pada tahun 1948 Pemerintah menegaskan I NYOMAN DUGDUG dari Denpasar sebagai pelaksana urusan Pabean dan Syahbandar sebelum masih ditangani oleh Pemerintah Nica Belanda. ( Devis petugas Nica Belanda ) Petugas administrasi urusan Bea Cukai dan Kesyahbandaran berangsung-angsur dilengkapi. Alat-alat perhubungan selat Bali saat itu hanya jukung, perahu dan kapal perpelin, arus penyebrangan belum ramai seperti sekarang. Begitu juga sarana angkutan darat pada saat itu baru hanya 2 mobil milik perusahan Sampurna dan Sapahira dari Negara. Waktu RIS tahun 1950 Pelabuhan ini dimasukkan ke wilayah Buleleng. Arus penyebrangan semakin ramai dan berkembang dan sangat dirasakan manfaatnya. Penduduk Gilimanuk semakin bertambah, untuk itu di bentuk kampung dengan kepala kampong diemban oleh HAJI ABDULLAH HAMID DARI Banyuwangi. Penataan wilayah terus dilaksanakan. Pada tahun 1964 Kepala Kampung di pegang oleh 2 orang yaitu bernama ABDUL JALIL dan GEDE PUSPA. Tahun 1965 Abdul Jalil meninggal dunia sehingga kepala kampung diemban oleh Gede Puspa. Status kampung di tingkatkan menjadi Banjar Dinas, sekaligus selaku Kelian Banjar Dinas adalah Gede Puspa berlangsung dari Tahun 1966-1974.

Sejak Tahun 1975 Status Banjar Dinas Gilimanuk ditingkatkan menjadi Desa Gilimanuk. Selaku Kepala Desa mendapat pilihan I GUSTI AGUNG MADE BERATA. Pada Tahun 1981 Status Desa Gilimanuk berubah menjadi Kelurahan Gilimanuk. Adapun nama-nama Lurah yang  memerintah Desa/Kelurahan Gilimanuk yang kami dapatkan dari berbagai sumber adalah sebagai berikut:

1. I Gusti Made Berata
2. Latif Digono
3. Ketut Raka
4. Drs Subagiana
5. Drs Ketut Sukra Negara
6. I Gusti Ngurah Rai Budhi, Sos
7. Drs I Made Budiasa
8. Drs I Ketut Kariadi Erawan
9. Drs I Nengah Ledang
10. I Gede Agus Wibawa, AP. Msi
11. I Ketut Eko Susila AP. SE, Msi
12. I Gusti Ngurah Dharma Putra, S.Sos
13. I Gusti Ngurah Sumber Wijaya, S.Sos
14. I Gusti Ngurah Rai Budhi, S.Sos
15. I Gd Ngurah Widiada, SH. - sampai sekarang


Demikianlah sekelumit sejarah singkat Kelurahan Gilimanuk, guna dipergunakan sebagai pegangan dengan harapan agar generasi muda mengetahui bahwa Kelurahan GILIMANUK mempunyai peranan yang penting.