Minggu, 31 Juli 2016

Lomba Mancing Umum 2016

Event ini diselenggarakan oleh POKMASWAS "ZONA BAHARI" GILIMANUK




Waktu dan Tempat Kegiatan :

Pelaksanaan lomba
        Hari/Tanggal   :      20 - 21 Agustus 2016
        Waktu            :      08.00 WITA - Selesai
         Tempat          :     Secret Bay Teluk Gilimanuk

Persyaratan dn Ketentuan Lomba :
  1. Mengisi formulir pendaftaran dan menyelesaikan administrasi lomba secarra online maupun online
  2. Pria dan wanita usia diatas 17 tahun
  3. Membawa alat pancing sendiri
  4. Para peserta lomba tidak diperkenalkan membawa umpan selama mengikuti lomba
  5. Mematuhi aturan dan tata tertib lomba yang ditetapkan panitia
Pendaftaran :
  1. Pendaftaran Langsung
           Hari/ Tanggal       :  Minggu, 15 Juli 2016 s/d 31 Juli 2016
           Waktu                 :  10.00 - 16.00 WITA
           Tempat                :  Sekretariat POKMASWAS & WARUNG KULINER
      2.  Pendaftaran Online
           Pendaftaran secara online bisa dilakukan di situs :
https://pokmaswaszonabahari.wordpress.com/situs-resmi-formulir-pendaftaran-lomba-mancing-umum-2016-bali/
 JURI :
Juri untuk lomba ini dari unsur Keanggotaan pokmaswas Zona Bahari Gilimanuk

KATEGORI DAN HADIAH “LOMBA MANCING UMUM 2016 BALI”
Hadiah Kategori Reguler :
Juara 1       : Uang tunai Rp. 2000.000 + piagam POKMASWAS ZONA BAHARI
Juara 2       : Uang tunai Rp. 1.500.000 + piagam POKMASWAS ZONA BAHARI
Juara 3        : Uang tunai Rp. 1.000.000+ piagam POKMASWAS ZONA BAHARI
Hadiah Kategori Premium dan Deluxe :
Juara 1         : 1 unit sepada motor + thropy
Juara 2         : Uang tunai Rp. 5.000.000 + thropy
Juara 3          : Uang tunai Rp. 2.500.000+ thropy

KETENTUAN DAN PERATURAN LOMBA :
  1. Para peserta yang tidak melakukan daftar ulang serta tidak membatalkan ke ikut sertaannya 7hari sebelum lomba, dinyatakan gugur dan uang pendaftaran hangus.
  2. Para peserta telah memiliki nomer peserta saat pelaksanaan lomba, atau dinyatakan gugur.
  3. Para peserta harus datang ke tempat lomba tepat waktu pkl. 08.30 wita.
  4. Para peserta membawa alat pancing sendiri berupa joran rooling dan tidak boleh menggunakan kail lebih dari 2mata kail.
  5. Para peserta tidak diperkenankan membawa umpan sendiri, atau membeli di luar arena lomba.
  6. Hasil tangkapan dinilai berdasar minimal berat 500gram (kurang daripada itu wajib release) dan jenis ikan.
  7. Hasil tangkapan yang sah untuk dinilai hanya kail yang tepat mengenai area mulut ikan dan ikan yang di dapat saat mengikuti lomba.
  8. Pemenang di tentukan dari akumulasi berat hasil tangkapan.
  9. Apa bila terjadi kesamaan berat dari hasil tangkapan dari peserta maka juri akan menentukan Kriteria kesempurnaan hasil tangkapan dan melalui kelas ikan.
  10. Para peserta bersedia menjaga ketertiban, tidak merusak fasilitas dan tidak mengganggu peserta lain saat lomba berlangsung.
  11. Para peserta yang curang akan dinyatakan gugur oleh panitia.
  12. Untuk mengantisipasi kecurangan, peserta lomba bersedia membeli umpan di lokasi lomba.
  13. Para peserta di larang mengganggu, memprovokasi dan mempengaruhi penilaian juri pencatat timbangan.
  14. Penilaian Juri tidak dapat di ganggu gugat oleh pihak manapun.
  15. Para peserta bersedia di nyatakan GUGUR apabila melanggar KETENTUAN DAN PERATURAN yang telah di tetapkan panitia lomba.
  16. Para peserta bersedia mematuhi semua ketentuan dan peraturan yang telah di buat oleh panitia lomba.
  17. Para peserta wajib memasang stiker pada joran yang di gunakan.
  18. Makan dan minum di luar fasilitas tiket peserta adalah tanggung jawab masing-masing  peserta.
  19. Kesalahan tekhnis alat pancing dan lain-lain yang menyebabkan keterlambatan ataupun kegagalan peserta lomba bukan menjadi tanggung jawab panitia lomba.
  20. Tidak melakukan tindakan berbahaya atau membawa senjata tajam, serta di larang membawa minuman beralkohol di arena lomba.

Salam strike
PANITIA LOMBA

CONTACT PERSON 
INDAH SRI RAHAYU : 0813399669318
WA                                  :  087861336199

Jumat, 29 Juli 2016

Keindahan Sunrise di Karangsewu

Keindahan Sunrise di Karangsewu - Karangsewu adalah sebuah lokasi di Taman Nasional Bali Barat (TNBB) dengan pemandangan berupa padang rumput luas yang teletak disekitar Teluk Gilimanuk. Masyarakat sekitar mengenal tempat ini dengan sebutan Pantai Karangsewu. Lokasinya berada di tepi pantai dengan landscape batuan karang sepanjang kurang lebih 200m garis pantai. Saat musim penghujan, tanah lapang di tepi pantai berselimut rumput berwarna hijau serupa lapangan golf. Namun ketika musim kemarau, rerumputan berubah warna menjadi coklat keemasan karena mengering. Terdapat di beberapa tempat tumbuh pohon Bekol (bidara) dengan dahan berbentuk paying yang bisa dijadikan tempat berteduh. Dari Karangsewu ini juga kita bisa melihat pemandangan sunrise (matahari terbit) yang indah.

Pantai, hutan mangrove, dan ekosistem padang rumput merupakan objek yang bisa dikembangkan untuk kegiatan wisata. Berbagai jenis kegiatan wisata dapat dilakukan, seperti wisata keluarga/piknik, mangrove tour, canoing, snorkeling, memancing, camping, birdwatching, cycling, dan kegiatan foto-foto atau prewedding juga dapat dilakukan disini. 

Karangsewu memiliki potensi yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata. Selain karena pemandangan alamnya yang indah, dari segi pengelolaan, tempat ini masuk dalam zona pemanfaatan Taman Nasional Bali Barat. Aksesnya sangat mudah dan jalan masuk cukup lebar sehingga kendaraan besar maupun kecil dapat mencapai tempat ini. Tiket masuk untuk tempat ini masih relative dapat dijangkau oleh kalangan remaja hingga dewasa. Karangsewu berjarak sekitar 1 km dari Pelabuhan Gilimanuk kearah Denpasar.







Museum Manusia Purba Gilimanuk

Museum Manusia Purba Gilimanuk - Jembrana sebagai salah satu Kabupaten di Pulau Bali, selama ini telah dikenal dengan keunikan seni budaya dan daya tarik atraksi budayanya seperti mekepung dan kesenian jegog. Disamping itu Jembrana juga memiliki potensi wisata lainnya yang merupakan daya tarik tersendiri dan tidak dapat ditemui di daerah lain, yaitu Museum Manusia Purba Gilimanuk. Gilimanuk merupakan situs kuburan prasejarah yang berada di ujung Barat Pulau Bali, tepatnya di Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, yang berdekatan dengan Pelabuhan yang menghubungkan Pulau Bali dengan Pulau Jawa. 
Luas area Museum Manusia Purba sekitar 20 hektar. Gilimanuk  banyak menyimpan peninggalan masa lalu berupa sisa-sisa kehidupan, seperti rangka manusia, binatang, dan peralatan-peralatan yang digunakan beberapa abad lalu. Keberadaan museum manusia purba di Gilimanuk sangat strategis sebagai media pembelajaran, pelestarian dan rekreasi. Situs Gilimanuk bersama dengan Museum Manusia Purba Gilimanuk adalah kekayaan budaya yang tidak ternilai, baik dalam konteks sejarah lokal, sejarah nasional, maupun keterkaitannya dengan sejarah kawasan Asia Tenggara dan Asia Selatan, tetapi dengan kearifan lokal yang khas Bali. Pengelolaan Situs Gilimanuk dapat dianggap sebagai salah satu bentuk penghormatan kepada nenek moyang yang telah menghasilkan karya-karya budaya yang sangat mengagumkan.










Panorama Indah Teluk Gilimanuk

Teluk Gilimanuk dan Taman Siwa Mahadewa - Teluk Gilimanuk merupakan salah satu destinasi pariwisata yang sedang dikembangkan di Gilimanuk. Objek wisata alam Teluk Gilimanuk menyajikan panorama hutan mangrove dan semenanjung Prapat Agung. Aktivitas wisata bahari seperti snorkeling dan diving dapat dilakukan, selain itu juga aktivitas menelusuri Teluk Gilimanuk, Pulau Kalong, Pulau Gadung, Pulau Burung dapat dilakukan dengan kanoing, water bicycle ataupun sampan yang dapat disewakan oleh masyarakat lokal.
Pemandangan Teluk Gilimanuk
Pemandangan Teluk Gilimanuk

Tak jauh dari area Teluk Gilimanuk terdapat sebuah taman yang indah yaitu Taman Siwa Mahadewa. Di Taman Siwa Mahadewa ini terdapat sebuah patung Dewa Siwa yang tingginya kurang lebih 10 meter. Di taman ini terdapat pula jogging track dan gazebo-gazebo yang dapat digunakan untuk rekreasi keluarga.

Patung Siwa di Taman Siwa Mahadewa

Gazebo di Taman Siwa Mahadewa

Teluk Gilimanuk dikelola oleh Dinas Lingkungan hidup di bawah Dinas Pariwisata, dengan Patung Siwa Mahadewa sebagai landmark dari Teluk Gilimanuk sendiri. Teluk Gilimanuk sangat berdekatan dengan Pelabuhan Gilimanuk dan Vihara Empu Astapaka dengan landmark Vihara yaitu Patung Buddha Gauttama. Pembangunan daya tarik wisata Teluk Gilimanuk berawal hanya dari lahan kosong, kemudian beberapa tokoh berkumpul untuk membangun tempat ini dan dengan beberapa perubahan arsitektur yang telah dibangun pada tahun 2014.
Hamparan teluk yang luas dengan tatanan taman disertai gazebo-gazebo dapat menarik wisatawan asing ataupun wisatawan mancanegara yang hendak mencari tempat beristirahat sebelum atau sesudah dari Pelabuhan Gilimanuk. Wisatawan pun dapat melepas penat bersama keluarga di tempat rekreasi ini. Selain itu, Teluk Gilimanuk berdekatan dengan daerah tujuan wisata lainnya seperti Karang Sewu, Museum Manusia Purba, dan Taman Nasional Bali Barat. Wisata kuliner juga dapat dilakukan di daerah Gilimanuk dengan makanan khas Gilimanuk yaitu ayam betutu dan ikan bakar dengan variasi harganya masing-masing. Fasilitas yang terdapat di Teluk Gilimanuk adalah rumah payung, MCK dan kamar bilas, kios souvenir.

Kamis, 28 Juli 2016

Foto-Foto Objek Wisata di Gilimanuk




Teluk Gilimanuk
Teluk Gilimanuk
Gazebo di Taman Siwa Mahadewa
Patung Siwa di Taman Siwa Mahadewa
Museum Manusia Purba
Gedung Museum Manusia Purba
Koleksi Museum Manusia Purba
Koleksi Museum Manusia Purba

Koleksi Museum Manusia Purba

Patung Budha di Vihara Empu Astapaka



Patung Budha di Vihara Empu Astapaka

Kondisi dan Potensi Kelurahan Gilimanuk

A. Kondisi Fisik
a. Letak Wilayah
Kelurahan GILIMANUK berada di wilayah Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali yang merupakan daerah dataran  rendah berpasir  dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :
  • Disebelah Utara berbatasan dengan Teluk Gilimanuk.
  • Disebelah Selatan berbatasan dengan Desa Melaya.
  • Disebelah Timur berbatasan dengan Desa Sumber Kelampok Kec. Gerokgak, Kab. Buleleng.
  • Disebelah Barat berbatasan dengan Selat Bali
b. Keadaan Tanah
Keadaan tanah di Kelurahan GILIMANUK adalah merupakan dataran rendah dan berpasir.

c. Iklim
Kondisi iklim Kelurahan GILIMANUK tidak berbeda jauh dengan daerah-daerah yang ada di Indonesia. Pada umumnya iklim yang berlaku tergantung 2 (dua) musim, yakni musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan dan kemarau sangat sulit diditeksi akhir-akhir ini dengan suhu udara rata-rata 28° C - 32° C dan curah hujan mencapai 1.600 mm pertahun.
B. Kondisi Sosial
a. Penduduk
Adapun jumlah penduduk Kelurahan GILIMANUK berdasarkan data terakhir yang dimiliki adalah sejumlah  8.639  jiwa dengan rincian sebagai berikut :
KK              :    2.494  KK
Laki-laki       :    4.375 Jiwa
Perempuan    :    4.264 Jiwa
b.    Pendidikan
Sekolah-sekolah yang berada pada wilayah Kelurahan GILIMANUK cukup banyak mulai dari TK/PAUD, SD/MI, SMP/MTS, sampai dengan SMU/MA sebagai berikut :
  • TK Gili Mandala berlokasi di Lingkungan Asri.
  • TK Al Mubarok berlokasi di Lingkungan Arum
  • Paud Aisiyah berlokasi di Lingkungan Arum
  • Paud Vila Delfia berlokasi di Lingkungan Asri
  • SDN 1 Gilimanuk berlokasi di Lingkungan Jineng Agung
  • SDN 2 Gilimanuk berlokasi di Lingkungan Arum
  • SDN 3 Gilimanuk berlokasi di Lingkungan Samiana
  • SDN 4 Gilimanuk berlokasi di Lingkungan Asri
  • MIN Gilimanuk berlokasi di Lingkungan Arum
  • SMPN 4 Melaya berlokasi di Lingkungan Asih
  • MTSN Gilimanuk berlokasi di Lingkungan Asih
  • SMU Gilimandala berlokasi di Lingkungan Jineng Agung
  • MA Al Mubarok berlokasi di Lingkungan Arum
 c.    Kebudayaan
Perkembangan kesenian di Kelurahan GILIMANUK dapat dikatakan cukup baik dengan adanya berbagai kelompok – kelompok seni yang berkembang di masyarakat seperti Kesenian Rindik, Bleganjur, Kuntulan, Jaranan dan Hadrah.  Hal ini menunjukkan bahwa antusiasme masyarakat dalam pengembangan dan pelestarian budaya cukup tinggi yang perlu mendapat dukungan dan perhatian serius dari Pemerintah.

C.     Keadaan Pemerintahan
Kelurahan Gilimanuk merupakan unit dari Pemerintahan Republik Indonesia, maka dalam melaksanakan tugas pemerintahannya langsung berada di bawah Kecamatan Melaya, Struktur Pemerintahan yang ada tidak kalah pentingnya dan juga lembaga-lembaga yang ada di Kelurahan Gilimanuk  maupun organisasi yang tumbuh dan berkembang di Kelurahan Gilimanuk senantiasa tertata dengan baik.  

Visi dan Misi Kelurahan Gilimanuk

Visi dan Misi Kelurahan Gilimanuk - Visi organisasi satuan kerja Pemerintah Kelurahan Gilimanuk adalah ″Mewujudkan Kelurahan Gilimanuk yang Aman dan Sejahtera Berlandaskan Pancasila dan Konsep Tri Hita Karana”  maka untuk menjalankan Visi tersebut Kelurahan GILIMANUK memiliki 5 (lima) Misi :

  1. Menciptakan Kelurahan Gilimanuk yang bebas dari gangguan Fisik dan Psikis serta terlindung dari bahaya.
  2. Meningkatkan Kesejahteraan Ekonomi Masyarakat.Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Masyarakat.
  3. Menciptakan Lingkungan yang Bersih dan Lestari.
  4. Melestarikan dan Menghargai Nilai-nilai Budaya Luhur.

Sejarah Kelurahan Gilimanuk

Sejarah Kelurahan Gilimanuk - Berbicara masalah sejarah adalah suatu pemikiran yang mengacu pada masa lampau, oleh karenanya pemaparan dalam hal sejarah merupakan penyampaian peran tentang apa-apa yang pernah terjadi pada masa lampau. Kalau kita soroti dari segi tujuan dalam hal ini adalah sebagai bandingan pada masa sekarang dan sebagai cermin terhadap peristiwa yang akan datang. 

Kalau kita mendengar kata Gilimanuk seakan-akan pikiran kita terarah pada suatu tempat yang menghubungkan dua buah Pulau yaitu Pulau Jawa dan Pulau Bali. Sebenarnya bukan itu saja, memang Perkembangan nama Penyebrangan Gilimanuk – Ketapang semakin Vital adanya sebagai akibat dari bertambah banyaknya orang-orang luar Bali khususnya dari Jawa yang ingin menikmati dan menyaksikan keindahan Pulau Bali dengan segala variasi Budayanya. Begitu pula semakin majunya roda perekonomian antar pulau. Bagaimana pun Gilimanuk sering dijuluki salah satu Pintu Gerbang Barat Pulau Bali. Namun dibalik kedudukannya sebagai Kunci Penyebrangan Jawa-Bali, kita dapat melihat suatu kenyataan yaitu sejarah kedatangan orang-orang dari berbagai Suku dan berbagai daerah sekedar mereka mencari nafkah, atau melaksanakan tugasnya sehingga dalam waktu relatif singkat Gilimanuk tidak saja dikenal sebagai tempat penyebrangan akan tetapi dikenal sebagai suatu Wilayah yang Berbhineka Tunggal Ika.


ASAL USUL KELURAHAN GILIMANUK
Menurut cerita-cerita rakyat bahwa sekitar Warsa 1920 Gilimanuk yang dikenal sekarang masih hamparan hutan belantara yang hanya dihuni oleh berbagai jenis Marga Satwa saja diantaranya paling banyak adalah Aneka jenis burung seperti Jalak Putih, Perkutut dan lain-lainnya. Orang dari Jawa yang ada pada saat itu mereka sebut tempat itu dengan nama Tanjung Selat, sebaliknya orang Bali yang dating ke tempat itu mereka sebut dengan nama Ujung.

Demikian mereka sebut tempat itu dengan nama yang berbeda-beda sesuai dengan pandangan masing-masing. Dalam keadaan wilayah seperti itu tidak seorang pun berkeinginan untuk menetap pada waktu itu di Gilimanuk disebabkan oleh tempat/wilayah ini terpencil dan banyak binatang buas.

Menurut cerita dari orang-orang tua yang dapat dipercaya, bahwa pada suatu ada Perahu dari Madura yang melintasi Selat Bali dihantam angin rebut dan gelombang besar sehingga mengalami kerusakan pada perahunya dan terdampar pada suatu Teluk dan berhasil menyelamatkan diri. Teluk itu sekarang disebut dengan Teluk Gilimanuk. Orang-orang perahu tersebut sempat berlindung ditempat itu. Dalam keadaan yang sangat melelahkan setelah berjuang ditengah hantaman mara bahaya, orang-orang tersebut menenangkan fikiran sambil menatap keindahan alamnya. Mereka santai menikmati aneka jenis burung yang secara kebetulan diantara burung yang melintas terlihat burung yang menjadi kegemarannya, burung itu adalah burung perkutut. Pada Teluk Gilimanuk terdapat Pulau-pulau kecil (berupa karang) menambah indahnya panorama di waktu pagi maupun sore hari. Pulau kecil itu disebut dengan nama GILI, sedangkan burungnya mereka sebut dengan nama MANUK ( Dalam Bahasa Madura GILI : Pulau dan MANUK : Burung ) berkat Lindungan Tuhan Yang Maha Esa setelah keadaan laut normal, perahu yang mengalami kerusakan diperbaiki sehingga mereka kembali ke Madura dalam keadaan selamat dan berhasil menangkap serta membawa burung perkutut. Lewat informasi secara Getok Tular antar orang-orang perahu/nelayan itu tersebarlah informasi GILI yang banyak MANUKNYA.

Maka dari itu Gilimanuk banyak dikenal dikalangan masyarakat Jawa dan Madura. Melalui  proses penyebutan tempat itu disebut Gilimanuk seperti yang kita kenal sekarang secara Etymologi(Sejarah Asal-usul kata Gilimanuk berarti sebuah pulau kecil yang terdapat banyak burung-burungnya)

Dalam tahun1930an Pemerintah Kolonial Belanda memindahkan tahanan Golongan berat dari Candikusuma ke GILI yang banyak Manuk-manuknya sebanyak 100 Orang yang sebagian besar dari Lombok. Sebagai Kepala Penjara bertugas RADEN MAS JASIMAN dari Negara untuk keperluan pengawasan dan pengamanan para tahanan tersebut dilaksanakan oleh Pemerintah Kolonial Belanda dengan mendirikan sebuah penjara. JASIMAN dipercaya selaku pimpinan penjara itu. JASIMAN tinggal bersama keluarga termasuk iparnya yang bernama KASIM. Bersama dengan dibangunya penjara tersebut Pegawai Perusahan Belanda bernama TUAN COLA dariBanyuwangiatas seijin TUAN KU RAJA NEGARA diperkenankan membuka hubungan dagang Jawa-Bali. TUAN COLA bekerjasama dengan MISNADI. MISNADI mengajak keluarga dan menantunya yang bernama NIBAH untuk bersama-sama tinggal disini. RADEN MAS JASMAN dan TUAN COLA beserta beberapa tahanan bermukim di Gilimanuk. Maka melalui sejarah mencatat adanya manusia untuk menghuni wilayah ini yang sebenarnya tidak ada yang mau dan berani menetap. Ada yang berasal dari Jawa, Madura, Makasar, Bugis dan juga pendatang sambil mencari burung menurut kegemaran mereka didaerah tersebut dan disekitarnya, Sehingga wilayah ini makin dikenal oleh berbagai Suku bangsa kulit kuning dari timur jauh. Segenap tahanan dipindahkan ke Yeh Ketipat Tetapi keluarga MISNADI dan RADEN MAS JASIMAN beberapa orang yg berjumlah 6 KK membentuk perkampungan kecil sebagai wadah kehidupan sosialnya. RADEN MAS JASIMAN sebagai Kepalanya, mereka membentuk Paguyuban Kecil untuk menghabiskan sisa-sisa kehidupannya di Gilimanuk. Lokasinya di daerah Pelabuhan sekarang dengan Luas area 1 Ha. Setelah secara resmi Jepang menguasai Negara kita ( Indonesia ) dibuat  Pos-pos Pertahanan, membuat Galangan Kapal, memadatkan jalan-jalan jurusan Negara – Singaraja dengan cara Rodi untuk kepentingan Jepang. Kerja Rodi ini berlangsung sampai Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Pada masa perjuangan fisik mempertahankan Kemerdekaan, Gilimanuk tidak luput juga dari medan pertempuran tat kala Pasukan Revolusioner kita pimpinan I GUSTI NGURAH RAI dipakai lintasan droping senjata dariJawa tahun 1946 dalam pertempuran itu banyak pasukan kita gugur sebagai kesuma bangsa dan dikuburkan di pekuburan pangkalan.

Pada tahun 1948 Pemerintah menegaskan I NYOMAN DUGDUG dari Denpasar sebagai pelaksana urusan Pabean dan Syahbandar sebelum masih ditangani oleh Pemerintah Nica Belanda. ( Devis petugas Nica Belanda ) Petugas administrasi urusan Bea Cukai dan Kesyahbandaran berangsung-angsur dilengkapi. Alat-alat perhubungan selat Bali saat itu hanya jukung, perahu dan kapal perpelin, arus penyebrangan belum ramai seperti sekarang. Begitu juga sarana angkutan darat pada saat itu baru hanya 2 mobil milik perusahan Sampurna dan Sapahira dari Negara. Waktu RIS tahun 1950 Pelabuhan ini dimasukkan ke wilayah Buleleng. Arus penyebrangan semakin ramai dan berkembang dan sangat dirasakan manfaatnya. Penduduk Gilimanuk semakin bertambah, untuk itu di bentuk kampung dengan kepala kampong diemban oleh HAJI ABDULLAH HAMID DARI Banyuwangi. Penataan wilayah terus dilaksanakan. Pada tahun 1964 Kepala Kampung di pegang oleh 2 orang yaitu bernama ABDUL JALIL dan GEDE PUSPA. Tahun 1965 Abdul Jalil meninggal dunia sehingga kepala kampung diemban oleh Gede Puspa. Status kampung di tingkatkan menjadi Banjar Dinas, sekaligus selaku Kelian Banjar Dinas adalah Gede Puspa berlangsung dari Tahun 1966-1974.

Sejak Tahun 1975 Status Banjar Dinas Gilimanuk ditingkatkan menjadi Desa Gilimanuk. Selaku Kepala Desa mendapat pilihan I GUSTI AGUNG MADE BERATA. Pada Tahun 1981 Status Desa Gilimanuk berubah menjadi Kelurahan Gilimanuk. Adapun nama-nama Lurah yang  memerintah Desa/Kelurahan Gilimanuk yang kami dapatkan dari berbagai sumber adalah sebagai berikut:

1. I Gusti Made Berata
2. Latif Digono
3. Ketut Raka
4. Drs Subagiana
5. Drs Ketut Sukra Negara
6. I Gusti Ngurah Rai Budhi, Sos
7. Drs I Made Budiasa
8. Drs I Ketut Kariadi Erawan
9. Drs I Nengah Ledang
10. I Gede Agus Wibawa, AP. Msi
11. I Ketut Eko Susila AP. SE, Msi
12. I Gusti Ngurah Dharma Putra, S.Sos
13. I Gusti Ngurah Sumber Wijaya, S.Sos
14. I Gusti Ngurah Rai Budhi, S.Sos
15. I Gd Ngurah Widiada, SH. - sampai sekarang


Demikianlah sekelumit sejarah singkat Kelurahan Gilimanuk, guna dipergunakan sebagai pegangan dengan harapan agar generasi muda mengetahui bahwa Kelurahan GILIMANUK mempunyai peranan yang penting.

Selasa, 26 Juli 2016

Lokasi Kelurahan Gilimanuk



Kelurahan Gilimanuk terletak di Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali. Desa ini memiliki jarak ±122 km dari pusat Kota Denpasar. Wilayah Desa Gilimanuk terdiri dari 6 lingkungan, yaitu Lingkungan Jineng Agung, Lingkungan Asri, Lingkungan Asih, Lingkungan Arum, Lingkungan Samiana, Lingkungan Penginuman

Jalak Bali, Satwa Endemik Bali Barat

Jalak Bali - Jalak Bali atau yang dikenal dengan sebutan Curik Bali merupakan satwa endemik di Pulau Bali yang sekarang berada di kawasan Taman Nasional Bali Barat, Kelurahan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali. 

 
Sejarah Jalak Bali
Jalak Bali ditemukan pertama kali oleh Dr. Erwin Stressman, seorang ahli burung berkembangsaan Inggris pada 24 Maret 1911. Stressmann secara tak sengaja menemukan burung ini saat ia tinggal di sekitar wilayah Singaraja selama tiga bulan. Dr. Erwin Stressman sampai di sana karena melakukan pendaratan mendadak akibat kapal mengalami kerusakan. Dr. Erwin Stressman menemukan jalak Bali di Desa Bubunan, sekitar 50 km dari Singaraja dan mengkategorikannya sebagai spesies burung endemik yang langka dan berbeda dengan jenis lain dari seluruh spesimen

Jalak Bali
Tahun 1925, Dr. Baron Viktor von Plesen melakukan penelitian lanjutan mengenai Jalak Bali dan menyimpulkan bahwa penyebaran Jalak Bali hanya meliputi Desa Bubunan sampai ke Gilimanuk, yaitu hanya sekitar 320 km2. Atas dasar inilah diketahui bahwa Jalak Bali adalah satwa endemik yang habitat aslinya tidak ditemukan di belahan bumi manapun kecuali di Bali bagian Barat, yaitu di Semenanjung Prapat Agung, tepatnya di Teluk Kalor atau berada di kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB).
Proses pengidentifikasian dilakukan oleh Streseman di Museum Hayati (Natural History Moseum) di Tring yang didirikan oleh Lord Lionel Walter Rothschild. Sebagai penghargaan atas dukungan ini, Stresemann kemudian menamainya dengan nama Leucopsar rothschildi.

Status Konservasi Jalak Bali
Saat ini status terbaru IUCN (International Union for the Conservation of Nature and Nature and Natural Resource) menetapkan Jalak Bali ke dalam kategori genting "Critical En-dangered (Bird Life International,2000)
Pintu masuk Taman Nasional Bali Barat

Konservasi Jalak Bali
Kegiatan penangkaran Curik Bali mempunyai sejarah yang panjang. Pertama kali, kegiatan penangkaran dimulai tahun 1931 ketika 5 ekor Curik Bali dibawa ke Inggris tahun 1928. Kegiatan penangkaran Curik Bali di Amerika Serikat dilakukan kebun binatang San Diego sejak tahun 1962. Di Indonesia, kegiatan usaha penangkaran dimulai sejak 1980-an baik secara perorangan atau melalui lembaga konservasi. Sejak saat itu, populasi Curik Bali dari kegiatan penangkaran meningkat pesat.
Di wilayah Bali, terdata sekitar 287 ekor. Berdasarkan data Asosiasi Pecinta Curik Bali, Ada sekitar 1000 ekor Curik Bali dari hasil penangkaran yang dikembangkan oleh lembaga konservasi dan usaha penangkaran pribadi di seluruh dunia. Data jumlah Curik Bali pada beberapa lembaga konservasi serta usaha penangkaran di Wilayah Bali Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali ada sekitar 287 ekor.

Ancaman Kelestarian Curik Bali
Ancaman adalah setiap usaha, kegiatan dan tindakan yang dapat membahayakan hidup dan proses kehidupan Curik Bali. Ancaman yang telah lama berlangsung dan disinyalir menjadi ancaman terbesar saat ini adalah perburuan ilegal. Selain iu, ancaman lainnya adalah menurunnya kualitas lingkungan atau hilangnya habitat alami Curik Bali akibat perubahan fungsi hutan menjadi area pemukiman, perkebunan, dll.